Selasa, 15 Desember 2015

Pendakian ke Gunung Andong

Gunung Andong adalah sebuah gunung bertipe perisai yang berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Gunung ini belum pernah mempunyai aktivitas meletus. Gunung Andong terletak di antara Ngablak dan Tlogorjo, Grabag dan berketinggian sekitar 1726 mdpl. Gunung Andong merupakan salah satu dari beberapa gunung yang melingkari Magelang.
Waktu itu pada hari rabu malam tanggal 29 april 2015, kami berkumpul di kos roma untuk mendiskusikan rencana mendaki ke gunung andong. Kami berjumlah 9 orang yaitu aku, Irfan, hari, reza, aufar, roma, fadhil, dionanda, dan dimas. Kami mendiskusikan apa aja yang harus dibawa untuk perjalanan. Pada hari kamis setelah pulang kuliah, kami langsung bergegas pulang untuk mengambil/menyiapkan barang-barang. Habis sholat ashar, aufar menghampiriku karena rumah kita searah. Kita langsung pergi ke kos roma untuk berkumpul kembali. Setelah sampai di kos roma, tiba-tiba hujan datang, kami pun menunggu sampai hujannya reda. Habis magrib kami pun berangkat menghampiri Irfan. Habis isya’ kami langsung berangkat dari rumah Irfan menuju ke basecamp gunung andong. 
Perjalanan menuju gunung andong dari jogja (rumah irfan) membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan, dan kami sampai di basecamp sekitar jam 9 malam. Kami berhenti di basecamp untuk beristirahat sebelum melakukan pendakian menuju puncak. Di basecamp, kami memesan makan dan minum karena kami semua sudah lapar hehe. 




Jam 10 kami memulai pendakian dari basecamp. Dan sampe puncak kira-kira jam 12 malam. Kami pun langsung menaruh tas/carrier dan membagi kelompok untuk mendirikan 2 tenda. Setelah tenda sudah berdiri, kami pun memasukkan barang-barang bawaan kami. Di puncak, mata kami di suguhi pemandangan yang begitu memukau. Karena di puncak pada malam hari kami dapat melihat indahnya gunung merbabu. Setelah itu kami membuat mie instan dan kopi. Ada yang langsung masuk tenda karena kedinginan, ada yang membuat mie dan kopi. Jam 2 pagi kami semua pun masuk ke tenda karena smua merasa kedinginan. 

 Waktu membuat mie dan kopi

Jam 5 pagi kami pun bangun, untuk melihat sunrise di sana. Sayangnya, kami tidak mendapatkan sunrise yang bagus karena cuaca yang tidak begitu baik. Terlepas dari tidak mendapat sunrise yang bagus, kami pun berfoto-foto bersama untuk mengabadikan momen di puncak gunung andong ini. Setelah itu kami mempersiapkan untuk sarapan pagi, kemudian kemi bersiap-siap untuk turun menuju ke basecamp krambil sawit gunung andong.




Foto dengan rombongan dari Salatiga


Gunung Api Purba Nglanggeran

Gunung Nglanggeran adalah gunung api purba berbentuk bongkahan batu raksasa. Selain dapat menyaksikan sunset & sunrise yang mempesona serta gemerlap Jogja di malam hari, di Puncak Timur Nglanggeran juga terdapat misteri dusun dengan 7 kepala keluarga.
Menyaksikan mentari terbit dari puncak gunung merupakan satu kemewahan yang tidak semua orang bisa menikmatinya. Rute yang ekstrim, cuaca yang tidak menentu, perjalanan yang berat, serta jauhnya jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki menjadi penghalang utama bagi sebagian orang. Namun hal ini tidak berlaku di Gunung Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul. Hanya memakan waktu 1 hingga 1,5 jam pendakian, Anda akan tiba di puncak barat Gunung Nglanggeran, Gunung Gede. Pemandangan indah yang memanjakan mata pun menyambut. Sejauh mata memandang yang terlihat hamparan awan di ketinggian, jajaran gunung batu dengan bentuk yang unik, perkampungan warga, serta hijaunya sawah dan ladang. Saat senja menjelang, Kota Jogja akan terlihat laksana lautan kunang-kunang. Taburan cahaya bintang dan gemerlap lampu kota yang terlihat dari kejauhan menjadi pemandangan romantis bagi siapa saja yang berkemah di gunung ini.
Gunung Nglanggeran merupakan gunung api purba yang pernah aktif puluhan juta tahun lalu. Terletak di kawasan karst Baturagung, gunung yang litologinya tersusun oleh fragmen material vulkanik tua ini memiliki dua puncak yakni puncak barat dan puncak timur, serta sebuah kaldera ditengahnya. Saat ini Gunung Nglanggeran berupa deretan gunung batu raksasa dengan pemandangan eksotik serta bentuk dan nama yang unik dengan beragam cerita rakyat sebagai pengiringnya. Gunung-gunung tersebut biasanya dinamakan sesuai dengan bentuknya, seperti Gunung 5 Jari, Gunung Kelir, dan Gunung Wayang.
Pertama kali aku kesini yaitu waktu kelas 1 SMA. Dan terakhir kesini yaitu kemarin pada saat liburan semester 2. Berikut ini ada foto-foto waktu di Gunung Api Purba Nglanggeran dari pertama kali sampai yang terakhir kali kesini.


Ini waktu kelas 1 SMA


 Ini waktu kelas 2 SMA



Ini waktu kelas 3 SMA



 Ini waktu kuliah semester 1



 Ini waktu semester 2

Minggu, 13 Desember 2015

Pengalaman Pertama Mendaki Gunung

Perkenalkan namaku Abdul Aziz Fakhruddin, biasa dipanggil Aziz. Disini aku akan menceritakan pengalaman pertama mendaki ke gunung.




Waktu itu aku diajak irfan untuk mendaki gunung, tujuannya ke gunung lawu, jawa timur. Ini pertama kalinya aku mendaki gunung. Kami beranggotakan 7 orang yaitu aku, irfan, faisal, andre, dan 3 orang temannya andre. H-1 kami berkumpul di rumah temannya andre untuk mendiskusikan barang apa saja yang akan dibawa untuk mendaki gunung. Setelah diskusi selesai, kami pulang ke rumah masing-masing untuk menyiapkan barang bawaan yang akan dibawa. Malam harinya aku packing. Tiba-tiba ada sms dari andre kalau dia tidak boleh mendaki gunung dulu oleh bapaknya karena kejadian di gunung sindoro tentang pendaki yang hilang. Akhirnya 3 teman andre juga tidak jadi. Tinggal aku, irfan, dan faisal yang bingung mau melanjutkan mendaki gunung apa tidak. Setelah dipikir-pikir, kami sepakat untuk mendaki bertiga dan mengganti tujuan awal yang semula ke gunung lawu, jadi ke gunung merbabu, jawa tengah. 

Keesokan harinya, kami berkumpul di bundaran ugm. Jam 08.00 kami berangkat dari bundaran ugm menuju ke basecamp merbabu yang ada di magelang. Kami mendaki gunung merbabu lewat jalur wekas yang ada di kab.magelang. Jam 11.00 kami sampai di basecamp. Lalu kami istirahat dahulu di basecamp. Pada saat itu cuaca sedang tidak mendukung, karena setelah sampai di basecamp, hujan datang di daerah wekas. Kami menunggu hujan reda sambil istirahat dan minum teh hangat.




Jam 12.00 kami memulai pendakian. Sebelumnya kami berdoa dulu agar perjalanan kami untuk mendaki lancar. Pada saat perjalanan menuju pos 1, gerimis pun datang. Lalu kami memakai jas hujan agar tidak kehujanan. Sekitar 2 jam berjalan, akhirnya sampai juga di pos 1. Lalu kami istirahat sejenak.



10 menit kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Akhirnya jam 5 sore kami sampai di pos 2. Dari pos 1 ke pos 2 kira-kira butuh waktu 2,5 jam perjalanan. Di pos 2 ini tempat yang cocok untuk mendirikan tenda karena tempatnya luas. Akhirnya kami pun mendirikan tenda disana. Malam harinya, kami memasak nasi dan mie untuk makan. Jam 8 malam kami bertiga pun tidur, untuk menyiapkan tenaga untuk besok pagi menuju puncak. 

Jam 2 pagi kami pun bangun karena ada alarm hp bunyi. Kami bersiap-siap untuk melanjutkan menuju puncak. Irfan ngomong sama aku dan faisal kalo mau ke puncak syarif, puncak kedua gunung merbabu. Jam 02.15 kami berangkat dari pos 2.  Jam 4 pagi kami sampai di pos batu tulis. Dari pertigaan pos batu tulis, kami berbelok ke kiri yang kata irfan puncak syarif berada di sebelah kiri. Jam 5 pagi akhirnya kami sampai di puncak syarif. Tapi kok disitu ada pemancar. Kami pun berjalan memutari pemancar itu untuk melihat-lihat. Setelah dipikir-pikir, ternyata disini bukan puncak syarif tapi puncak/pos pemancar. 






Jam 7 kami pun turun menuju ke pos 2. Setibanya di pos 2, kami langsung membuat sarapan pagi. Kemudian kami bersiap-siap untuk turun menuju ke basecamp. 
 


Minggu, 23 September 2012

Keindahan Pantai Trisik


Pantai Trisik

Pantai Trisik merupakan pantai pertama di Kabupaten Kulon Progo yang berlokasi di wilayah Brosot, Kabupaten Kulon Progo, berjarak sekitar 37 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Perjalanan ke Pantai Trisik akan terasa menyenangkan dan tak begitu melelahkan meski jaraknya cukup jauh. Jalan menuju pantai ini sangat halus dan minim tanjakan, terdapat pula warung makan di kanan kiri jalan yang bisa menjadi tempat beristirahat bila lelah. Melewati jalur Palbapang dan Srandakan, anda juga akan dapat menikmati pemandangan Sungai Progo ketika melewati jembatan penghubung Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo.
Pantai Trisik memiliki kekhasan dibanding pantai-pantai lainnya di Kulon Progo, yaitu suasana pedesaan pesisir yang begitu terasa. Pantai, rumah-rumah warga, gubug-gubug yang menjajakan makanan dan jalan penghubung desa dengan kota terletak saling berdekatan. Beragam aktivitas warga sekitar yang memanfaatkan wilayah pesisir dan laut sebagai sumber penghidupan juga turut meperkuat suasana pedesaan pesisir itu.Tempat pelelangan ikan adalah salah satu tempat yang akan dijumpai ketika memasuki wilayah pantai ini. Tempat ini menjadi jantung bagi warga Trisik yang berprofesi sebagai nelayan, sebab di situlah aktivitas jual beli ikan berlangsung. Biasanya, tempat ini ramai sejak sesaat ketika nelayan selesai melaut mencari ikan.